Gunung Gede di Bulan Juli

Posted: Juli 7, 2011 in Jalan-jalan

Jangan Meninggalkan Apapun Kecuali Jejak Jangan Mengambil Apapun Kecuali Kenangan Jangan Memetik Apapun Kecuali Hikmah dari Setiap Perjalanan (anonim)

Pagi itu, saya, Iqbal, Pimen, dan ketiga teman baru asal Cipanas duduk bersama di loteng rumah Pimen. Ketiga teman itu kemudian diketahui bernama Cepi, Enik, dan Bahtiar. Kami bersama menunggu kedatangan Iqra dari rumahnya di Cianjur. Agak lama nampaknya, dan memang lama kami menunggu hampir dua jam, dan kemudian dengan rambut kribonya yang terkuncir rapi dia datang.

Setelah yakin ikatan tali sepatu krisbow ukuran 42 saya kuat, saya pun pamit kepada orangtua Pimen. Sambil berdoa dalam hati, kami bertujuh naik angkot ke pos jaga Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) yang berada di kawasan Gunung Putri (1.450 mdpl) Setelah mengurus administrasi pendakian, kami pun melangkah di jalan setapak yang melewati perkebunan warga Pasir Kampung Desa Sukatani. Terlihat banyak tanaman wortel, lobak, sawi, dan brokoli segar dari kebun yang luas itu. Akhirnya, perkebunan berganti hutan saat memasuki kawasan berpohon tinggi dan lebat, udara pun menjadi jauh lebih sejuk dan teduh. Dan pastinya tanjakan semakin miring saja.

Di perjalanan kita melewati Legok Lenca (2.150 mdpl) dan Buntut Lutung (2.300 mdpl), serta akan menemui dua buah pondok masing-masing di Lawang Seketeng (2.500 mdpl) dan di Simpang Maleber (2.625 mdpl). Jalur mulai curam di sekitar Lawang Seketeng ini, dan Simpang Maleber terdapat simpangan jalan ke kiri, tetapi kita harus mengambil jalur lurus untuk menuju Alun-alun Surya Kencana.

Dari Simpang Maleber hingga Alun-alun, saya berjalan sendirian karena jauh tertinggal lima teman yang duluan, Enik pun jauh di belakang saya karena kewalahan membawa carrier yang berat. Saya menikmati kesendirian ini, meskipun kadang berpapasan dengan yang baru turun dari jalur Cibodas. Selalu ada waktu untuk berdialog dengan diri sendiri, Tuhan, dan berkhayal memiliki pacar vampire yang akan menerbangkan saya ke atas pohon tertinggi di hutan ini. Duduk di atas batu besar dan bernyanyi dengan riangnya.

oh Tuhan, hamba mohon dipertemukan lagi dengan suasana seperti ini di surga kelak, amin

Sekitar jam 3 sore, kami tiba di Alun-alun Surya Kencana, sebuah savana yang luas dengan edelweis yang menyebar di mana-mana. Kami makan dulu bekal kami di tengah savana yang mulai dituruni kabut, setelah kenyang kami berjalan mencari tempat istirahat yang teduh dan dekat dengan sumber air. Sebuah pancuran mata air segar pun ditemukan di ‘walungan’ yang mengalir di bawah tebing, kami mengisi botol-botol kosong untuk minum dan mengambil wudhu untuk shalat di bukit kecil di Alun-alun.

Pukul setengah 4 lebih, awalnya kami akan mendirikan camp di Alun-alun, namun kondisi spot yang tertutup pohon dari angin dipenuhi sampah yang dibuang pendaki-pendaki sebelumnya. Kami pun memutuskan meneruskan perjalanan sampai puncak pada jam 4. Jalur yang didaki kali ini adalah jalur terjal berbatu yang kami namakan TB (Tanjakan Bungah/Bahagia). Karena sangat melelahkan dan sulit dijangkau dengan tenaga naik biasa, terkadang saya harus memanjat dan menekukkan lutut supaya melewati bebatuan yang besar. Pukul lima sore, saat matahari akan tenggelam di ufuk barat, saya dan Iqra (yang ada di paling belakang rombongan) sampai di puncak Gunung Gede (2.958 mdpl).

Setelah mendirikan tenda dome, saya menyempatkan diri duduk di tepian kawah menatap sunset indah di belakang Gunung Pangrango (3.109 mdpl) yang terlihat jelas di seberang saya. Setelah gelap, kami memasak air, menyeduh kopi, mie instan dan mengemil cokelat. Saat Iqbal sudah ngorok, saya dan Iqra yang sama-sama sudah terbalut baju tiga lapis, kaos kaki juga tiga lapis, jaket, baju planel dan sleeping bag, muka tertutup, kami malah asyik mengobrol hingga larut malam.

Pukul 4 pagi, di luar sudah ribut karena ingin melihat sunrise, tapi saya tidur lagi dan bangun jam 6. Alhamdulillah, masih bisa mengabadikan sunrise baik dalam ingatan maupun di kamera. Setelah curhat dengan Pimen yang sedang memasak, Iqra dan Iqbal yang memutuskan masuk sleeping bag kembali, kami packing dan bersiap turun pada jam 9. Menyusuri pinggiran kawah lumayan menegangkan juga, walau seutas tambang dan kabel dapat dijadikan pegangan buat turun, tapi tanah yang bercampur dengan pasir membuat perjalanan agak licin.

Yang edan, saat melewati jalur berbatu yang terjalnya hampir tegak lurus, kami menggunakan tambang untuk rappelling sampai bawah. Selanjutnya kita sampai di Batu Kukus ( 1.820 mdpl), dimana dapat kita jumpai sebuah pondok untuk berteduh.Pukul 12 siang, kami menjumpai wisarta air panas bersuhu 50 derajat Celcius, di sana kami memancing mie instan yang sudah diberi air bersih dan diikat menyerupai umpan pada kail.

Satu jam kami istirahat, juga menunggu Iqbal dan Iqra mandi air hangat di sungai yang lebih tinggi. Setelah itu berjalan sekitar satu jam ke Panyangcangan Kuda, 0,3 Km dari pertigaan luas itu terdapat air terjun Curug Cibeureum, tapi saya memilih untuk tidak ke sana.

Lalu, Rawa Gayang Agung (1.600 mdpl), yang merupakan padang rumput dan tanaman perdu menjumpai saya yang lagi-lagi jalan sendirian. Saya menemukan banyak sekali anggrek menjadi parasit pepohonan. Seperti yang diceritakan papan informasi TNGP, di hutan ini kita dapat menjumpai 200 jenis anggrek, dan beruntung sekali 4 di antaranya hanya terdapat di sini.

Menuju Kandang Badak dan melalui hutan tropika yang indah, kita juga akan dapati sebuah danau kecil yang dinamakan Telaga Biru (1.500 mdpl). Setelah melewati jalan, jembatan kayu, dan tangga-tangga besar dari batu kali, akhirnya tibalah kita di pintu gerbang Kebon Raya Cibodas di samping jalan lapangan golf. Di sana kami mendapati Owa Jawa (salah satu binatang dilindungi) pada pukul setengah 4 sore, kami pun mendapatkan angkot untuk kembali ke tanah air.

Sebenarnya, ingin sekali mendatangi Lembah Mandalawangi yang terlewati saat naik angkot di Pasar Cibodas. Tapi, kaki pun rasanya sudah dibebani berkuintal-kuintal beban. Terima kasih TNGP :D, terima kasih Sang Maha Arsitek . Sayang sekali, hamba-hamba-Mu ini dzolim terhadap keseimbangan alam. Terbukti dengan tergeletaknya sampah-sampah anorganik, undegradable, dan beracun di sepanjang perjalanan.

baca juga! :)

Salam Lestari.

Sudah lama kiranya tidak menulis, apalagi yang bisa dipublish ke jejaring sosial dan blog. Kali ini saya hanya ingin melakukan warming up yang terinspirasi dari kampanye lingkungan hidup akhir-akhir ini. Para aktifis dan tidak sedikit pasifis lingkungan hidup, mulai akrab dengan kalimat bahkan kegiatan 3R: Reuse, Recycle , Reduce. Kenapa berbahasa Inggris? Karena mungkin biar enak didengar, kalau di-Indonesia-kan akan menjadi MK, DU, M (menggunakan kembali, daur ulang, dan mengurangi jumlah).

3R adalah salah satu cara memperlakukan sampah di muka bumi ini yang mulai meresahkan. Ingat kan beberapa tahun silam bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Leuwigajah, Cimahi. Gunungan sampah bisa meledak dan mencelakai orang-orang di sekitarnya, layaknya volcano Merapi. Sekarang, kalau kita jalan-jalan ke alam terbuka seperti taman, hutan, sungai, dan lainnya tak ada satu spot-pun tanpa kita melihat sampah. Bukankah lebih indah jika kita tahu cara menanganinya agar kedamaian tercipta di muka bumi ini? Mari kita panggil Power Puff Girls (lho?)

1. Reuse

Penggunaan kembali (reuse) adalah menggunakan lagi suatu barang lebih dari sekali. Termasuk penggunaan kembali secara konvensional di mana barang dipakai lagi dengan fungsi yang sama, maupun dengan fungsi yang berbeda.

Upaya reuse termasuk paling mudah dilakukan, karena kita hanya perlu menggunakan kembali barang-barang yang kita punya. Buat yang kelebihan uang jajan dan belanja, cek deh di rumah atau kamar kamu, banyak benda yang sebetulnya hanya satu kali kamu pakai, bahkan belum pernah kamu pakai sama sekali setelah membelinya. Yang akhirnya, kamu membuangnya. Jika kamu sudah merasa gak butuh, sebaiknya kamu mengalihfungsikan benda itu. Contoh kecil yang mungkin dilakukan Ibu kita, baju menjadi kain lap.

Penggunaan kertas berlebih juga gak baik, maka gunakan bagian kosong di balik kertas yang pernah dipakai ngeprint. Kamu takut disebut pelit? Pikir dua kali, kalau kita boros hari ini berarti kita pelit sama anak cucu kita kelak, karena sebuah pabrik kertas raksasa mengaku membabat setidaknya 10 hektar hutan setahun. Kita boleh sombong hari ini menanam berapa bibit pohon, tapi gak semuanya tumbuh kan? Dan adapun yang tumbuh, akan dengan waktu yang sangat lama, juga hasil yang belum tentu setinggi dengan yang kita ‘bantu’ tebang sekarang.

TAS c3Ra

Tas ini adalah salah satu program reuse saya yang berhasil, dibeli pada saat kelas 5 SD di Order Clothing Jalan Lombok 11. Selama sebelas tahun menemani saya, dia mengalami penggantian resleting atas satu kali (dengan resleting bekas jaket). Dan penggantian resleting bawah empat kali, dan dihias dengan bordiran-bordiran yang juga berfungsi sebagai tambalan. Tas ini sewaktu-waktu bisa jadi tas belanja atau lap juga lho.

Untuk yang mau meniru, dan mulai berpikir bongkar gudang, jangan khawatir disebut gak up to date! Lihat saja, sekarang model pakaian edgy, retro, 80’s fashion, gaya klasik masih in (selama Cimol masih buka dan diserbu pembeli). hanya perlu sedikit kreatifitas untuk menyulapnya sebagai sesuatu yang asyik.

2. Recycle

Nah, ini tahap lain buat barang yang sudah gak bisa di-reuse. Jangan dulu dibuang, apalagi barang/kemasan berlabel tanda ini:

Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru.

Pertama, kalau kamu membuka kemasan bertanda itu, sobeklah dengan baik supaya menghasilkan bahan baku daur ulang yang tidak cacat. Kedua, carilah ide akan dibuat apa benda tersebut. Ketiga, kalau tangan kamu terbukti tidak licin membuat kerajinan, serahkan pada pengrajin barang daur ulang seperti bank sampah. Contohnya, di tangan orang-orang kreatif, barang recycle tidak hanya menganggulangi masalah sampah, tapi punya daya guna kehidupan sehari-hari. Dan gak jarang menghasilkan uang tambahan $_$.

 

 

Daur ulang sampah organic adalah dengan mengubahnya menjadi kompos. Saya tidak merasa mumpuni menjelaskan . Tapi Zero Waste Community (sebuah komunitas yang konsisten menggelar acara/kegiatan nol sampah) pernah mengajarkan saya mengolah sampah organik rumah tangga dengan takakura/ komposter. Ini contoh alatnya Gan, caranya tinggal masukin sampah organiknya aja ke dalam, dan pastikan unsur hara di dalamnya tetap hidup dengan mengecek suhunya. Kalau hangat, proses penghancuran sampah menjadi kompos sukses selalu. Dan kalau sudah agak penuh, buanglah isi takakura ke tanah yang ada tanamannya (contoh: kebun) supaya jadi pupuk alami.

3. Reduce

Upaya yang ketiga, boleh jadi yang terberat buat saya. Soalnya saya hobi banget ‘nyampah’. Pada tahap yang ketiga ini, kita dipaksa menekan, mengendalikan, dan mengurangi keinginan kita menjadi konsumtif. Berbelanja boleh, namun harus sedikit sekali melakukan resiko menyampah.

Contoh:

1. Membeli sapu tangan, bukan menggunakan tisu untuk mengelap ingus atau debu

2. Membeli makanan yang tidak dibungkus sampah kantung plastic, alumunium foil, dan styrofoam (mereka adalah bahan baku yang sangat sulit di-recycle atau dihancurkan). Sedangkan saya sangat suka jajanan khas anak SD maupun snack di minimarket yang pasti dibungkus ketiga musuh tersebut. Jika tetap harus membeli, belilah dengan ukuran besar atau yang ada tanda recycle-nya.

3. Membawa alat makan dan minum untuk membeli makanan di jalan yang mungkin akan mengjhasilkan sampah dnegan bungkusnya. Seperti nasi bungkus, es jeruk (di plastic dengan sedotan), cilok, dkk. Untuk minum, sebaiknya jangan gunakan bekas air mineral, karena tanda recycle dengan angka 1 berarti penggunaannya hanya boleh dipakai minum 3x ganti air.

4. Menggunakan tas belanja/keranjang dari rumah untuk membawa belanjaan di pasar dan supermarket.

5. Dan banyak lagi lah… Banyak cara, untuk kita lebih kreatif. Apapun yang kamu lakukan, sedikit dan sebanyak apapun, lakukanlah untuk bumi kita tercinta. Salam Sampah!

hellyeah \m/

Posted: Juni 21, 2011 in fiksi bodoh

apa ini namanya? aduuuh apa?!!! syndrome mahasiswa tingkat akhir kah??? jadi rada ngeblues… resah gundah gulana gurilem…lada siga kiripik ma icih…haseum jiga rujak nu kamari dilepehkeun nini2 na angkot… ah yeah!!! apa ini apa??!!! apa yang harus dikerjakan dari awal? apa yang harus ditata, dipahami dan dimulai? apa?!!! merasa sendiri karena udah ga punya kelas, dosen pembimbing beda…. tongkrongan yang jadi sepi dan basi… 6 bulan kemaren ngapain aja? review: diklat lumayan menyita waktu.bobogohan tara.februari?ulin…? kamana?asa weuh tapakan? poho… maret ok lah kkm.. april apa?!!! brokenheart? haahha…. mei gawe okelah sip…. juni JUNI deg degan kieu…kemarau. pagi yang sangat dingin, siang yang kencang berangin bikin kulit kering, cuaca panas bikin panas dalam juga. jadi sering makan buah tropis…dan minum air putih… cucian gampang kering, setrikaan numpuk, air harus ngambil dulu di mesjid, di gentong, di tukang jualan air…gak dari langit… Tuhan… maybe this is called rush hour dan tanpa teman…dan tak ramai dan menikmati siaran tv yang berwarna-warni dan menonton laga band-band kesukaan dari youtube dan sudah lama tidak pergi mengaji dan ahhhhhhh curhat ini pun terasa gersang, tak bernyawa, tak bernyali bagai terdampar di sebuah kedai bangkrut di Texas dan memesan segelas root beer hangat, yang bukan dari kulkas tapi dari jerami… ahhhh!!!!! pengen apa?!?!!! negara yang dipijaki bikin frustrasi. yang angkuh mengeluh, yang galau meracau, yang botak menggertak, yang maling pergi berobat, yang membela diri dibiarkan dipancung…. aih aih apa yang bisa kuperbuat?buat mamah… mengerjakan tugas excelnya yang banyak dari tahun tujuh puluhan mungkin itu bisa membuat beliau semakin lega, lalu bermain zuma “mah rido keneh teu mayaran kuliah abi?” bari cirambay… oh malam ini jadi dramatis sekali tapi aku tetap tak tau apa namanya???!!! Skripsi Blues?

Wih woh wah!

Ada Lalat di balik batu. Namanya Lalat. Bunyinya ngiung. ngiung.  asalnya dari Mumbai, India sana. Dia punya tato di tengah jidatnya. Warna merah tentunya. Hidungnya tak mancung. Melainkan lebar ke samping. Samping saha nu dianggo? (selendang siapakah yang dipakai?) Sepertinya akan menghabiskan tiga Rabu membicarakan itu.

Si Lalat berteman baik dengan Susu Murni. Si Susu Murni yang suka dijajakan orang Panyileukan. Susu Murni dikirim dari rumah Emak, yang memelihara lima ekor sapi di kaki gunung Manglayang.

Itu kalau Lalat lagi main di tepian timur Bandung raya. Kalau lagi ke utara, Lalat main di Cihideung. Dia suka pakai sweater, kupluk dan bawa senter. Sebagian pendatang, selalu menganggap Lalat penjaga vila. Tapi sebenarnya dia lagi mencari si Susu Murni, sumbernya dari sembilan sapi perah milik keluarga A Kress[1].

Suatu hari, ada si Kunyit Kelabu, warnanya kelabu tak kuning seperti pada umumnya kunyit. Kunyit adalah tetangga tiri si Lalat India, bukan tetangga kandung, Kunyit dan Lalat beda ibu dan beda bapak makanya disebut tetangga tiri. Kunyit mencari keberadaan Lalat.

Sudah dua pekan, Kunyit tak bersua dengan Lalat. Baik di utara maupun di timur. Di-call  eh di-reject, di-SMS eh tak dibalas, di-Wall  eh dihapus, di-comment juga dihapus. Maka, Kunyit mencari cara lain agar bertemu Lalat.

Kunyit menyiram tempat-tempat umum dengan berliter-liter susu murni. Zrt. Zrt. Zrt. Wsc. Wsc. Wsc. Krewl. Krewl. Efektif sekali cara ini. Sambil membacakan sebuah mantera buatan dirinya sendiri, “Merejane aca aca meregehese nehi syalala.”

Datanglah si Lalat dengan wajah kuyu dan mata yang sayu, bobot tubuhnya kelihatannya berkurang beberapa nano-ons. ”Wew! Si Kunyit!” saat ia bicara, kepala dan lehernya geleng-geleng naik turun seperti Lalat-lalat Mumbai lainnya.

Aya naon  Nyit?” (Ada apa Nyit?)

Teu aya nanaon, ngan aya sanguna hungkul euy. Deungeunna beak.” (Ga ada apa-apa, hanya ada nasi saja, lauknya habis)

Wajah Lalat pun mem-bete tragis!

”Dari mana aja sih, Nyit?” tanya Lalat.

”Kamu Lat yang dari mana aja?”

Lalat mengupil dulu sebentar, lalu menyeruput susu-susu murni yang tercecer. Setelah itu, Lalat mengisap rokok tanpa filter lalu bersuarakan “Shhhh Paphhh”

Backpacking, Nyit.”

“Hah, bajigur?” Kunyit kaget, matanya berlinang bensin.

”Bek-peking!” tegas Lalat.

Beruing?!”

Adventure, my manAllohu akbar si Kunyit. ” kata Lalat sambil guling-guling balerina.

“Akupunktur?”

Lalat pergi sebentar ke dapur, lalu kembali bawa parutan di lengannya yang setebal rambut pun tidak. ”Nyit, ngarti backpacking nteu? Atawa urang parud beungeut didinya, lumayan keur teteh urang nu nyeuri haid. Daek dijieun Kunyit Asam?!” (Nyit, lu ngerti bekpeking gak?! atau lu mau gue parut muka lo! Buat jadi kunyit asam—jamu?!)

MERINDING. Saudara-saudara, Kunyit gemetar tiada henti. ”I. iya Lat, backpackingngng.”

”Gitu donk ah, kamu ini. ” kata Lalat sambil menyimpan parutannya di dapur.

”Ngapain aja backpacking nya? Pasti rame banget ya?”

Seketika asap mengepul di bibir lentiknya, mata Lalat menerawang langit.

“Saya habis dari gunung, Gunung Sampah. Anak kecil yang suka memunguti gelas-gelas bekas air mineral titip salam. Dengan buliran keringat bau basahi wajah kumalnya. Yang tak lebih bersih dari bajunya. Lalu bertemu emaknya, yang lebih bau darinya. Aku suka, di tubuhnya banyak koreng, kukerubuti bersama teman-teman. Emaknya katarak, belek bercucuran di matanya. Saya dan teman-teman saja jijik” tuturnya santai.

”Wah, ” Kunyit terpukau. ”Lain kali saya ikut atuh. ”

”Iya, asal kamu bisa terbang aja.”

”Bisa kok, soalnya Kunyit kan masih turunan burung hantu.”

Lalat yang lagi ngemil keripik kuda poni tersedak. ”Ohok,  ohok. ” ia batuk.

Kunyit penasaran, ”Selain hiking, Lalat ke mana lagi?”

”Saya habis dari Gedung Sate. Duduk sebentar dan buang air di atas sebungkus gado-gado yang tersisa di tempat sampahnya. Melirik sebentar ke atas meja, PNS-PNS yang pura-pura kerja di balik safari anti-kusut, padahal terkonsentrasi di dunia maya. Pulang kerja lalu mereka belanja. Saya ikuti mereka. Karena keringatnya sama masamnya dengan tumpukan Gunung Sampah. Nikmat”

”Seru.  seru.  terus? Terus?”

”Yang paling berkesan adalah waktu saya di terminal. Elf yang lagi saya tumpangin ngetem lama pisan. Banyak pedagang yang lusuh dan dagangannya yang macam-macam rupanya. Sedangkan saya gak butuh, Nyit, gak punya duit lagi.”

Kunyit terdiam, terpana melihat kerutan dahi Lalat yang menyerupai kaligrafi ayat Quran. Berkelok, meliuk dan menukik. Hihi.

”Gelengan-gelengan terhadap tawaran-tawaran kecil itu membuat saya mengisap sembilu. Sakit nalarku dijejali teori-teori kemakmuran; kesejahteraan; kemiskinan; pengangguran; Irving Fisher, keuangan; Marx atau Rhoma Irama”

”Saya ini Nyit, dengan jengah yang sama di setiap harinya duduk mengais asa dalam  keranjang sampah yang membebani punggung saya yang luka. Ingin sekali saya sampaikan saya dalam air matamu hai orang-orang bermandi peluh di terik bola api. Wahai orang-orang pemilik derita yang cuma berita.”

”Lalat sok puitis, ” kata Kunyit pelan.

”Hahaha,” Lalat tertawa jengkel.

Kunyit dan Lalat pun larut dalam suasana getir itu, hingga senja hampiri selatan Bandung. Di Pangalengan mereka kini, habiskan waktu dengan bercanda, di dekat si Susu Murni yang selalu menyejukkan hati sahabatnya Lalat India.

“Tapi ada yang paling unik Nyit, ada sekumpulan mahasiswa berkerumun seperti bangsa saya. Mereka berkerumun di sekitar semangkuk bala-bala. Mereka diskusi, mereka merencanakan perlawanan mulia, dan mereka punya semangat yang tinggi meraih cita-cita.”

“O, ya? Siapa mereka?” tanya Kunyit terheran.

“Yang saya ingat, motto mereka adalah: Berwawasan Global, Bercitarasa Lokal,” Lalat diam sebentar. “Begi nama salah satu dari mereka. Ya, Begi!”

(cerita pendek ini hasil parafrase puisi Pada Sebuah Takdir karya Begi BlahBloh)

Bandung, November 2009.

 


[1] A Kress adalah temannya penulis, rumahnya di Cihideung Kec. Lembang Kab. Bandung.

Hello… my first post nih. Sambil menengadahkan tangan ke atas, saya berdoa semoga istiqomah menulis, sehingga nasib blog saya ini tidak seperti blog-blog saya lainnya yang terbengkalai. :)

Sedikit share aja buat yang suka jalan-jalan yang istilah kerennya travelling atau backpacking … di sini bisa kita lihat tips-nya supaya aman, lancar, dan bisa menghadapi situasi-situasi yang gak pernah terbayang. Agak sedikit formal bahasanya karena diadopsi dari materi DIKLATSAR Pencinta Alam. Padahal mungkin kita jalan untuk tujuan senang-senang. Nah makanya, di bawah ini saya share buat semua jenis perjalanan khususnya buat yang suka perjalana luar biasa alias petualangan.

Keinginan untuk berpetualang di alam menyebabkan para penggiatnya melakukan banyak kegiatan dan perjalanan. Mulai dari pendakian gunung, penyusuran pantai sampai kegiatan besar yang sering disebut ekspedisi. Semua jenis perjalanan tersebut memerlukan persiapan yang baik, karena kondisi alam yang sering berubah yang jika tidak dapat kita atasi akan membahayakan, namun apabila dapat teratasi akan memberikan semacam kenikmatan dan kepuasan.

Dalam upaya mengatasi alam yang sering berubah, maka kita harus membuat perencanaan yang matang, disesuaikan dengan medan, cuaca, bahaya dan apa yang dapat kita manfaatkan. Perencanaan yang matang minimal akan membantu kita mengatasi segala macam hambatan yang mungkin akan timbul.

  1. Pendahuluan
    1. Pembuatan proposal. Proposal adalah landasan sebuah kegiatan. Seperti yang kita tahu, di dalamnya ada landasan kegiatan, tujuan kegiatan, dan lain-lain.
    2. Pengurusan perijinan. Hal ini perlu dilakukan, apalagi bila kita mendatangi tempat yang mengharuskan membuat perijinan, misalnya ketika kita akan melakukan pendakian ke gunung gede.
    3. Pencarian dana. Hal ini dimaksudkan untuk meringankan kinerja kita dalam keuangan, karena organisasi kealaman biasanya tidak mengarah kepada materi, jadi materi yang dimiliki juga tidak banyak.
    4. Publikasi. Kegiatan yang bersifat eksternal atau umum perlu dipublikasikan.
    5. Presentasi. Diperlukan untuk melihat kelayakan acara yang kita buat.
    6. Dokumentasi. Diperlukan sebagai kenang-kenangan atau bukti dari sebuah kegiatan
    7. Komunikasi. Sebuah kegiatan tidak akan berhasil tanpa komunikasi yang baik dan jelas.
    8. Pengelolaan operasi. Pelaksanaan kegiatan.
    9. Evaluasi operasi. Evaluasi kegiatan.
    10. Program pendidikan dan latihan
    11. Tinjauan psikologis. Dalam membentuk kegiatan harus juga melihat aspek ini
    12. Emergency plan, diperlukan jika rencana pertama dilihat kurang efektif atau sama sekali tidak berhasil.
    13. Tekhnik negosiasi. Dalam negosiasi, pahami dulu karakter orang yang diajak ngobrol lalu teruskan ke metode yang pas dalam membuat goal.
    14. Study kasus, perlu dilakukan agar tidak terjadi kesalahan lagi pada kegiatan selanjutnya.
  2. Persiapan
    1. Kondisi fisik. Hal ini perlu dipertimbangkan karena sebuah kegiatan akan menguras fisik.
    2. Kebugaran fisik. Kita harus memberlakukan pola hidup yang sehat karena kita berada di lingkungan yang menuntut dan membutuhkan kondisi fisik yang stabil.
    3. Sistem syaraf.
    4. Penginderaan.
    5. Pengetahuan, harus terus ditingkatkan karena lingkungan kita yang menuntut kita untuk terus progres.
    6. Komponen budaya.
  3. Program latihan
    1. Harus bertahap
    2. Jangan terputus
  • Peralatan, perlengkapan dan perbekalan
    1. Efektif, jangan membawa sesuatu yang tidak penting dan meninggalkan sesuatu yang penting.
    2. Efisisen, dalam rencana perjalanan ambil rute yang paling lambat

Lebih dari semua itu, saya pikir yang harus kita punya sebelum bepergian adalah niat baik, tekad yang kuat, dan keberanian menghadapi resiko apapun. So, ke mana perjalanan kita selanjutnya?

this is shared for you…. Manajemen Perjalanan

Hello world!

Posted: Juni 15, 2011 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.