Archive for the ‘fiksi bodoh’ Category

hellyeah \m/

Posted: Juni 21, 2011 in fiksi bodoh

apa ini namanya? aduuuh apa?!!! syndrome mahasiswa tingkat akhir kah??? jadi rada ngeblues… resah gundah gulana gurilem…lada siga kiripik ma icih…haseum jiga rujak nu kamari dilepehkeun nini2 na angkot… ah yeah!!! apa ini apa??!!! apa yang harus dikerjakan dari awal? apa yang harus ditata, dipahami dan dimulai? apa?!!! merasa sendiri karena udah ga punya kelas, dosen pembimbing beda…. tongkrongan yang jadi sepi dan basi… 6 bulan kemaren ngapain aja? review: diklat lumayan menyita waktu.bobogohan tara.februari?ulin…? kamana?asa weuh tapakan? poho… maret ok lah kkm.. april apa?!!! brokenheart? haahha…. mei gawe okelah sip…. juni JUNI deg degan kieu…kemarau. pagi yang sangat dingin, siang yang kencang berangin bikin kulit kering, cuaca panas bikin panas dalam juga. jadi sering makan buah tropis…dan minum air putih… cucian gampang kering, setrikaan numpuk, air harus ngambil dulu di mesjid, di gentong, di tukang jualan air…gak dari langit… Tuhan… maybe this is called rush hour dan tanpa teman…dan tak ramai dan menikmati siaran tv yang berwarna-warni dan menonton laga band-band kesukaan dari youtube dan sudah lama tidak pergi mengaji dan ahhhhhhh curhat ini pun terasa gersang, tak bernyawa, tak bernyali bagai terdampar di sebuah kedai bangkrut di Texas dan memesan segelas root beer hangat, yang bukan dari kulkas tapi dari jerami… ahhhh!!!!! pengen apa?!?!!! negara yang dipijaki bikin frustrasi. yang angkuh mengeluh, yang galau meracau, yang botak menggertak, yang maling pergi berobat, yang membela diri dibiarkan dipancung…. aih aih apa yang bisa kuperbuat?buat mamah… mengerjakan tugas excelnya yang banyak dari tahun tujuh puluhan mungkin itu bisa membuat beliau semakin lega, lalu bermain zuma “mah rido keneh teu mayaran kuliah abi?” bari cirambay… oh malam ini jadi dramatis sekali tapi aku tetap tak tau apa namanya???!!! Skripsi Blues?

Iklan

Wih woh wah!

Ada Lalat di balik batu. Namanya Lalat. Bunyinya ngiung. ngiung.  asalnya dari Mumbai, India sana. Dia punya tato di tengah jidatnya. Warna merah tentunya. Hidungnya tak mancung. Melainkan lebar ke samping. Samping saha nu dianggo? (selendang siapakah yang dipakai?) Sepertinya akan menghabiskan tiga Rabu membicarakan itu.

Si Lalat berteman baik dengan Susu Murni. Si Susu Murni yang suka dijajakan orang Panyileukan. Susu Murni dikirim dari rumah Emak, yang memelihara lima ekor sapi di kaki gunung Manglayang.

Itu kalau Lalat lagi main di tepian timur Bandung raya. Kalau lagi ke utara, Lalat main di Cihideung. Dia suka pakai sweater, kupluk dan bawa senter. Sebagian pendatang, selalu menganggap Lalat penjaga vila. Tapi sebenarnya dia lagi mencari si Susu Murni, sumbernya dari sembilan sapi perah milik keluarga A Kress[1].

Suatu hari, ada si Kunyit Kelabu, warnanya kelabu tak kuning seperti pada umumnya kunyit. Kunyit adalah tetangga tiri si Lalat India, bukan tetangga kandung, Kunyit dan Lalat beda ibu dan beda bapak makanya disebut tetangga tiri. Kunyit mencari keberadaan Lalat.

Sudah dua pekan, Kunyit tak bersua dengan Lalat. Baik di utara maupun di timur. Di-call  eh di-reject, di-SMS eh tak dibalas, di-Wall  eh dihapus, di-comment juga dihapus. Maka, Kunyit mencari cara lain agar bertemu Lalat.

Kunyit menyiram tempat-tempat umum dengan berliter-liter susu murni. Zrt. Zrt. Zrt. Wsc. Wsc. Wsc. Krewl. Krewl. Efektif sekali cara ini. Sambil membacakan sebuah mantera buatan dirinya sendiri, “Merejane aca aca meregehese nehi syalala.”

Datanglah si Lalat dengan wajah kuyu dan mata yang sayu, bobot tubuhnya kelihatannya berkurang beberapa nano-ons. ”Wew! Si Kunyit!” saat ia bicara, kepala dan lehernya geleng-geleng naik turun seperti Lalat-lalat Mumbai lainnya.

Aya naon  Nyit?” (Ada apa Nyit?)

Teu aya nanaon, ngan aya sanguna hungkul euy. Deungeunna beak.” (Ga ada apa-apa, hanya ada nasi saja, lauknya habis)

Wajah Lalat pun mem-bete tragis!

”Dari mana aja sih, Nyit?” tanya Lalat.

”Kamu Lat yang dari mana aja?”

Lalat mengupil dulu sebentar, lalu menyeruput susu-susu murni yang tercecer. Setelah itu, Lalat mengisap rokok tanpa filter lalu bersuarakan “Shhhh Paphhh”

Backpacking, Nyit.”

“Hah, bajigur?” Kunyit kaget, matanya berlinang bensin.

”Bek-peking!” tegas Lalat.

Beruing?!”

Adventure, my manAllohu akbar si Kunyit. ” kata Lalat sambil guling-guling balerina.

“Akupunktur?”

Lalat pergi sebentar ke dapur, lalu kembali bawa parutan di lengannya yang setebal rambut pun tidak. ”Nyit, ngarti backpacking nteu? Atawa urang parud beungeut didinya, lumayan keur teteh urang nu nyeuri haid. Daek dijieun Kunyit Asam?!” (Nyit, lu ngerti bekpeking gak?! atau lu mau gue parut muka lo! Buat jadi kunyit asam—jamu?!)

MERINDING. Saudara-saudara, Kunyit gemetar tiada henti. ”I. iya Lat, backpackingngng.”

”Gitu donk ah, kamu ini. ” kata Lalat sambil menyimpan parutannya di dapur.

”Ngapain aja backpacking nya? Pasti rame banget ya?”

Seketika asap mengepul di bibir lentiknya, mata Lalat menerawang langit.

“Saya habis dari gunung, Gunung Sampah. Anak kecil yang suka memunguti gelas-gelas bekas air mineral titip salam. Dengan buliran keringat bau basahi wajah kumalnya. Yang tak lebih bersih dari bajunya. Lalu bertemu emaknya, yang lebih bau darinya. Aku suka, di tubuhnya banyak koreng, kukerubuti bersama teman-teman. Emaknya katarak, belek bercucuran di matanya. Saya dan teman-teman saja jijik” tuturnya santai.

”Wah, ” Kunyit terpukau. ”Lain kali saya ikut atuh. ”

”Iya, asal kamu bisa terbang aja.”

”Bisa kok, soalnya Kunyit kan masih turunan burung hantu.”

Lalat yang lagi ngemil keripik kuda poni tersedak. ”Ohok,  ohok. ” ia batuk.

Kunyit penasaran, ”Selain hiking, Lalat ke mana lagi?”

”Saya habis dari Gedung Sate. Duduk sebentar dan buang air di atas sebungkus gado-gado yang tersisa di tempat sampahnya. Melirik sebentar ke atas meja, PNS-PNS yang pura-pura kerja di balik safari anti-kusut, padahal terkonsentrasi di dunia maya. Pulang kerja lalu mereka belanja. Saya ikuti mereka. Karena keringatnya sama masamnya dengan tumpukan Gunung Sampah. Nikmat”

”Seru.  seru.  terus? Terus?”

”Yang paling berkesan adalah waktu saya di terminal. Elf yang lagi saya tumpangin ngetem lama pisan. Banyak pedagang yang lusuh dan dagangannya yang macam-macam rupanya. Sedangkan saya gak butuh, Nyit, gak punya duit lagi.”

Kunyit terdiam, terpana melihat kerutan dahi Lalat yang menyerupai kaligrafi ayat Quran. Berkelok, meliuk dan menukik. Hihi.

”Gelengan-gelengan terhadap tawaran-tawaran kecil itu membuat saya mengisap sembilu. Sakit nalarku dijejali teori-teori kemakmuran; kesejahteraan; kemiskinan; pengangguran; Irving Fisher, keuangan; Marx atau Rhoma Irama”

”Saya ini Nyit, dengan jengah yang sama di setiap harinya duduk mengais asa dalam  keranjang sampah yang membebani punggung saya yang luka. Ingin sekali saya sampaikan saya dalam air matamu hai orang-orang bermandi peluh di terik bola api. Wahai orang-orang pemilik derita yang cuma berita.”

”Lalat sok puitis, ” kata Kunyit pelan.

”Hahaha,” Lalat tertawa jengkel.

Kunyit dan Lalat pun larut dalam suasana getir itu, hingga senja hampiri selatan Bandung. Di Pangalengan mereka kini, habiskan waktu dengan bercanda, di dekat si Susu Murni yang selalu menyejukkan hati sahabatnya Lalat India.

“Tapi ada yang paling unik Nyit, ada sekumpulan mahasiswa berkerumun seperti bangsa saya. Mereka berkerumun di sekitar semangkuk bala-bala. Mereka diskusi, mereka merencanakan perlawanan mulia, dan mereka punya semangat yang tinggi meraih cita-cita.”

“O, ya? Siapa mereka?” tanya Kunyit terheran.

“Yang saya ingat, motto mereka adalah: Berwawasan Global, Bercitarasa Lokal,” Lalat diam sebentar. “Begi nama salah satu dari mereka. Ya, Begi!”

(cerita pendek ini hasil parafrase puisi Pada Sebuah Takdir karya Begi BlahBloh)

Bandung, November 2009.

 


[1] A Kress adalah temannya penulis, rumahnya di Cihideung Kec. Lembang Kab. Bandung.